Sunday, March 31, 2013

manajemen program TV

Apa Itu Programming  ?    

Jika di analogi kan dengan Komputer, Programming adalah software. Secara sederhana Programming adalah proses seleksi dan penjadwalan program yang dirancang oleh seorang  programmer acara secara sistematis. 

Apa Tujuan Programming  ?
    
Tujuan utama programming dalam sebuah televisi komersial adalah mengoptimalkan (memperbanyak)  jumlah pemirsa dan membantu memaksimalkan revenue.
Meskipun tujuan utamanya adalah memperbanyak jumlah pemirsa, tapi tugas   programing di Televisi bukan hanya itu. Porogramming memiliki beberapa tugas yaitu:
  • •    Akuisisi program   
  • Pembelian program, baik dari dalam maupun luar negeri. Berbagai macam cara pembelian bisa dipilih oleh seorang programmer yang bertugas mengakuisisi program, tapi semua harus memiliki tujuan untuk membeli program yang baik (secara kualitas maupun komersial) semurah mungkin agar stasiun dapat memperoleh margin keuntungan sebesar-besarnya.
  • •    Schedulling program
  • Membuat jadwal penayangan program, biasanya untuk jangka waktu mingguan-bulanan-sampai tahunan, yang mendukung pencapaian penonton sebesar-besarnya.  Schedulling ini  harus mempertimbangkan berbagai hal seperti; ketersediaan audience, pesaing, daya tarik program, peraturan lembaga negara, kesempatan komersial (penjualan) dan lain-lain.
  • •    Monitoring program
  • Programmer juga harus melakukan pengawasan program, dan menentukan program mana yang masih bisa dikembangkan, harus diperbaiki, dipindah jam tayang atau bahkan harus diganti. Dalam pengawasan program ini programmer akan melakukan penilaian melalui survey secara kualitatif dan kuantitatif terhadap program tertentu.
  • •    Developing program
  • Programmer akan bekerja sama dengan divisi produksi atau pemberitaan yang membuat program, menyarankan perbaikan dan penyempurnaan terhadap program. Tentunya saran ini berdasarkan temuan dari hasil survey yang dilaksanakan secara teratur.

AKUISISI

Dalam pelaksanaan akuisisi, pembelian program dari luar bisa dilakukan melalui berbagai pihak, seperti:
•    Label Film
•    Network atau broker film
•    Production House
•    Individual maker

Adapun cara pembelian yang sering dilakukan adalah melalui cara:
•    Beli putus
•    Beli paket / bundling
•    Kerjasama Produksi / lisensi
•    Blocking time
•    Share Iklan

SURVEY

Pelaksanaan survey sangat penting bagi programming. Ada dua jenis survey yang digunakan dalam mengevaluasi program atau sekedar melihat selera audience dan trend. Kedua sistem survey tersebut adalah:
  1. Survey Kualitatif 
  2. Survey Kuantitatif

Survey kuantitatif, biasanya mengandalkan data dari lembaga survey seperti AC Nielsen, SRI atau LSI. Lembaga yang paling umum digunakan adalah AC Nielsen. Di lembaga tersebut  ada beberapa metode pengumpulan data yang dilakukan, yaitu:
  •     Manual    :
  • Dengan kuesioner yang disebarkan oleh pewawancara khusus ataupun formulir isian sukarela yang dikumpulkan seminggu sekali dari panel sampel.
  • •    Elektronik :
  • Dengan remote elektronik yang mencatat dan mendata penggunanya saat memindahkan channel TV di rumah mereka.
  • •    Otomatis :
  • Pencatatan otomatis dari alat yang terintegrasi langsung dengan televisi di rumah rumah responden/panel sampel.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN RATING DAN SHARE :

TV Ratings (TVR)
Prosentase pemirsa yang menonton acara tertentu dari total populasi televisi atau target pemirsa



Rating (%) = (Pemirsa / total populasi TV) x 100 %

TV Share (TVS)
Prosentase pemirsa suatu saluran atau acara tertentu dari jumlah pemirsa televisi yang menonton saat itu.


Share (%) = (Pemirsa satu acara/ total penonton TV saat itu) x 100 %


Tuesday, January 27, 2009

jurnalisme, binatang apa sih itu?

Jurnalisme adalah bidang disiplin dalam mengumpulkan, memastikan, melaporkan dan menganalisa informasi yang dikumpulkan mengenai kejadian sekarang, termasuk trend, masalah, dan orang.

Orang yang mempraktekan jurnalisme disebut jurnalis.

Aktivitas utama dalam jurnalisme adalah pelaporan kejadian dengan menyatakan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana (Dalam bahasa Inggris dikenal dengan 4W1H) dan juga menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau trend. (wikipedia.com )

Jurnalisme dapat diberi ciri khusus.
Melalui penelitian dalam committee of concerned journalists, yang menggelar 21 fora dengan 3000 anggota, dan bekerja sama dengan badan penelitian dari berbagai universitas untuk melakukan 103,5 jam wawancara dengan 300 orang journalis dari seluruh dunia, diperoleh beberapa prinsip dasar mengenai jurnalisme.

The Elements of Journalism

• Journalism’s first obligation is to the truth
• It’s first loyalty is to citizens
• Its essence is a discipline of verification
• Its practitioners must maintain an independence from those they cover
• It must serve as an independent monitor of power
• It must provide a forum for public criticism and compromise
• It must strive to make the significant interesting and relevant
• It must keep the news comprehensive and proportional
• Its practitioners must be allowed to exercise their personal conscience

Bill Kovach & Tom Rosentiel, The Elements of Journalism.

Patokan-patokan tersebut sampai saat ini masih dianggap sebagai patokan dasar yang paling mendekati deskripsi elemen-elemen dasar dalam sebuah disiplin ilmu yang disebut jurnalisme.

Setelah mengetahui prinsip-prinsip dasar dari jurnalistik, kita lanjutkan ke tugas utama seorang jurnalis, yaitu mencari berita. Karena tulisan ini ditujukan untuk para trainee di media penyiaran TransTV, maka penjabaran tugas utamanya disesuaikan dengan jurnalisme di dunia broadcast dan bukan jurnalisme media cetak.


Reporter yang baik bisa membedakan berita bagus/kuat dari berita yang lebih lemah. Ketrampilan membedakan nilai berita itu disebut News Judgement,

News Judgement itu biasanya diperoleh melalui pengalaman dan kedalaman pengetahuan sang reporter. Dengan memiliki News Judgement yang baik, sang reporter dapat memilih melakukan liputan yang lebih penting terlebih dulu dari yang kurang penting. Hasilnya akhirnya adalah meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja sang reporter/ camera person.

---small note---------------------------------------------------------

Market driven Journalism
“..a commodity to fit the market demands of a collection of special interests”
Intinya adalah media broadcast selain media yang sangat berpengaruh sebagai media massa, juga merupakan institusi bisnis yang padat modal. Dalam prakteknya, seringkali jurnalis dalam dunia penyiaran atau broadcast harus melakukan kompromi antara kepentingan bisnis (dalam artian memberikan apa yang ‘diinginkan’ masyarakat) dan kepentingan jurnalisme (memberikan apa yang ‘dibutuhkan’ masyarakat).
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, televisi fungsinya sudah bergeser dari media massa menjadi institusi bisnis, tak heran berbagai kepentingan ikut mempengaruhi news judgement para reporter di dalamnya. Kepentingan pemilik dan kebutuhan akan rating dan share tinggi sering membelokkan nilai-nilai berita yang ada.
Meskipun begitu, tetap ada beberapa nilai yang bisa dijadikan patokan seberapa penting sebuah berita bila dibandingkan dengan berita lain. Nilai-nilai ini diakui oleh nyaris semua jurnalis di dunia, walaupun dalam urutan dan porsi yang berbeda-beda. Nilai –nilai tersebut sering disebut sebagai nilai berita (news value). Semakin banyak news value yang dimiliki oleh sebuah berita, semakin berharga berita tersebut.

Berikut adalah beberapa news value yang berlaku universal…

• New
Kebaruan sebuah informasi. Semakin baru sebuah informasi bagi pemirsanya maka semakin berharga sebuah berita. Tentunya kebaruan adalah relatif. Bagi seseorang sebuah informasi adalah baru, bagi seseorang belum tentu baru bagi orang lain.

• Timely (actuality)
Semakin aktual sebuah berita, semakin berharga. Aktual berarti tengah menjadi bahan pembicaraan. Jika sebuah berita masih aktual, masih menjadi menjadi pembicaraan ia memiliki nilai berita. Tapi nilai berita itu akan berakhir kalau lewat dari masanya. Berita itu menjadi basi atau tidak aktual. Lawan dari timely adalah timeless, ada beberapa jenis berita yang tidak memiliki batasan waktu penayangan. Biasanya berita feature atau soft news. Berita seperti itu disebut berita timeless, dan tidak menjadi basi.

• Important
Yang dimaksud penting adalah berita yang memiliki pengaruh besar, terutama bagi kepentingan negara. Menurut Riza Primadi, berita yang dianggap penting adalah berita yeng mempengaruhi hidup berbangsa dan bernegara. Contohnya: rapat rapat DPR dan MPR. Walaupun tak menarik dan tidak baru, tetapi dianggap penting karena mempengaruhi masalah pelaksanaan pemerintahan negara.

• Unique / Bizzare
Berita berita yang unik, mengenai benda, orang ataui peristiwa yang tidak biasa atau aneh biasanya menarik perhatian orang, dan karenanya memiliki nilai berita.

• Conflict
Konflik bersenjata, konflik antar suku, bentrokan fisik atau bahkan sekedar perseteruan antara beberapa pihak dapat menjadi salah satu selling point dari sebuah berita. Secara naluriah manusia tertarik pada konflik antar sesama manusia apalagi dibalik konflik biasanya ada cerita yang menarik, berupa intrik atau teori konspirasi yang memancing rasa ingin tahu, bagaimana konflik ini berlanjut dan bagaimana akhirnya.

• Drama/Human Interest
Manusia selalu tertarik dan memperhatikan hal hal yang berkaitan dengan manusia lain atau kehidupan manusia secara keseluruhan. Dan hanya pada manusia lain, kita dapat merasa simpati2 dan empati. Dari segi broadcast; Sebagian besar penonton televisi menyalakan TV set dirumahnya untuk mencari hiburan. Karena itu seringkali dalam membuat berita televisi, para jurnalis juga harus memperhatikan keinginan ini. Hiburan tentu saja bukan Cuma berbentuk tari tarian atau nyanyi dan lawak. Hiburan bukan Cuma mencari senyuman atau tertawa. Selera manusia memang unik; mereka senang ditakut takuti (horor), ada yang suka di buat menangis (drama tragedi), ada yang suka diajak bermimpi indah (fantasi) dan sebagainya.

• Prominence
Its not news that make the people.. it’s the People that make the news. Orang penting identik dengan berita. Apapun yang dilakukan sosok tokoh masyarakat bisa menjadi bahan perbincangan menarik, dan akibatnya menjadikan informasi itu memiliki nilai berita.

• Scandal
Sama dengan human interest yang lebih mengedepankan rasa iba dan simpati, scandal memuaskan keingintahuan penonton terhadap hal-hal yang tabu atau tak pantas.

• Impact & Relevance
Akibat yang ditimbulkan suatu informasi bisa menjadikannya memiliki nilai berita tinggi. Sementara relevance berarti selagi berita itu memiliki relevansi terhadap pemirsa, mereka akan menonton berita itu, dan berarti berita itu memiliki nilai berita. Misalnya berita kenaikan suku bunga bank indonesia mungkin hanya relevan bagi para pialang dan pebisnis, tapi kenaikan harga BBM relevan bagi semua penduduk. Berita kenaikan BBM memiliki impact bagi seluruh masyarakat, sehingga lebih tinggi nilai beritanya daripada kenaikan harga mobil yang cuma ber akibat pada segelintir orang.

• Magnitude
Besarnya skala suatu berita. Berita 1 orang keracunan, tentu kalah berharga dari berita satu kampung keracunan. Berita terbakarnya pasar tanah abang pasti dianggap besar, tapi jika dibandingkan berita tentang tsunami aceh, magnitudenya menjadi kecil.

• Proximity
Kedekatan penonton pada suatu masalah tertentu akan mem buat informasi tentang masalah itu memiliki nilai berita. Kedekatan ada dua macam, kedekatan fisik dan kedekatan emosional/psikologis.
Contoh : Kedekatan fisik : bagi orang jakarta berita angin ribut tanpa korban di jabotabek lebih penting daripada berita angin ribut yang membawa 4 korban jiwa di Finlandia . Kedekatan emosional : berita penyerangan Palestina oleh Israel menjadi penting di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga punya kedekatan emosi dengan masyarakat Palestina yang mayoritas juga Muslim.

Setelah mengetahui cara menilai berita, reporter juga harus memilih bentuk dari News Item (berita) yang akan digunakannya. Masing-masing bentuk memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, tapi pemilihan bentuk tersebut biasanya didasari oleh nilai berita tersebut dan durasi yang ada.

-----------small note -------------------------------------------------------
Bentuk berita

yang umum digunakan saat ini adalah:

Package
Bentuk ini biasanya dipilih untuk berita yang cukup menarik dan lengkap. Dikatakan lengkap karena diperlukan kelengkapan data, soundbite, narasumber yang seimbang dan bisa dilengkapi dengan PTC dari sang reporter. Bentuk package ini memiliki keuntungan bagi reporter dan campers, karena dibagian akhir biasanya disematkan Sign Off yang isinya adalah nama sang pembuat berita tersebut.

Voice Over (VO).
Bentuk ini adalah bentuk standar dari berita spot. Keunggulannya adalah kecepatan dan biasanya digunakan untuk berita kejadian. Voice over bentuknya adalah gambar kejadian lengkap dengan natsoundnya, kemudian diberikan narasi yang dibacakan oleh narator atau bahkan langsung oleh presenter.

Sound On Tape (SOT)
Pada hakekatnya SOT adalah soundbite. Biasanya SOT digunakan jika ada soundbite sangat penting dari orang yang kredibel, tapi tidak ada informasi atau gambar yang bisa digunakan untuk melengkapinya. SOT bisa langsung dinaikkan 15 – 30 detik dengan didahului lead dari presenter.

Reader
Reader adalah sebuah naskah atau berita singkat yang dibacakan langsung oleh presenter, tanpa disertai gambar. Reader hanya digunakan jika ada sebuah berita yang sangat penting, harus segera diketahui public, tapi tidak ada gambar apapun saat itu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Reporter biasanya sudah mengetahui sejak saat liputan, apakah beritanya bisa dijadikan paket, atau hanya sekedar VO, tetapi pada saat liputan selalu diarahkan untuk mencari berita selengkap-lengkapnya agar bisa dijadikan paket. Keputusan untuk membuat paket, VO, SOT atau reader adalah milik produser acara.

Saturday, October 18, 2008

BELAJAR JADI JURNALIS

TERIMA AMPLOP?!

Beberapa hari terakhir saya dikejutkan dengan datangnya beberapa teman reporter junior yang menyerahkan amplop. Ya, amplop berisi uang. Para jurnalis muda itu terpaksa menerima amplop saat melakukan liputan. Mereka merasa rikuh menolak pemberian dari narasumber yang begitu baik pada mereka. Huh… itu jadi masalah. Karena mereka melapor ke saya, maka saya yang akan ketiban pulung dan harus ikut bertanggungjawab.

Untuk pekerjaan lain mungkin amplop tidak lebih penting dari map atau kantong kertas, tapi bagi seorang jurnalis, amplop menjadi simbol dari sesuatu yang harus dihindari.
Maksudnya memang bukan amplopnya tapi isinya.

Menerima amplop memang sangat personal. Hanya 50 persen jurnalis penerima amplop bisa dibuktikan (kalau ketahuan sih sudah pasti). Sekali lagi keputusan menerima atau menolak amplop memang sangat personal, sangat tergantung pada moral dan kondisi sang jurnalis. Saya termasuk aliran yang berusaha menghindari Amplop..
Amplop sebaiknya ditolak oleh jurnalis serius yang benar-benar ingin menjadi pewarta sejati. Alasannya menurut saya adalah dibawah ini:

1. Menghilangkan ciri seorang jurnalis.
Terima amplop berarti menghilangkan independency sang jurnalis. Bagaimanapun, pasti akan ada perasaan tidak enak atau sungkan untuk menghajar satu narsum, kalau kita menerima uang darinya. Uang juga bisa membuat jurnalis kehilangan sikap ketidak perpihakan yang seharusnya selalu dimiliki seorang jurnalis. Apalagi kalau menerima secara rutin, dan karenanya secara tidak sadar mulai mengharapkan sang amplop itu.

2. Menerima amplop berarti menghargai diri anda.
Saya tidak salah tulis, … yang saya maksud memang benar seperti yang tertulis di atas. Maksud saya adalah; begitu anda menerima amplop dari seorang sumber atau pihak yang diliput, sama saja anda memberi harga pada diri dan profesionalitas anda. Kalau hari ini anda menerima amplop yang isinya 500 ribu, maka besok sang pemberi sudah melabeli anda dengan harga. “Oh… kalau jurnalis anu dari TV itu cukup kasih 500 ribu sudah aman. Kalau si fulan dari TV ini harus 1 juta baru terima.” Itu harga anda. Murah? Bayangkan kalau anda mengambil amplop yang isinya hanya 50 ribu. Sedih kan?
Jurnalis harusnya priceless, dan apapun bendanya begitu ada harganya maka pasti bisa dibeli. Jangan mau jadi jurnalis yang bisa dibeli.

3. Menerima amplop sama saja korupsi.
Dengan menerima amplop sama saja memasyarakatkan budaya suap dan korupsi. Selain munafik (karena wartawan seharusnya punya fungsi untuk mengawasi proses pemerintahan - fungsi anjing penjaga), menerima uang juga memudahkan wartawan untuk diancam oleh pemberi uang.

Kalau bagi jurnalisme menerima amplop berarti begitu buruk, kenapa selalu saja ada jurnalis yang mengambil amplop (berisi uang) yang disodorkan? Menurut pengetahuan saya ada beberapa hal yang sering dijadikan alasan, misalnya:


Ø Nggak enak pada teman-teman dari TV lain.
Ø Takut dimusuhin kalau nggak nerima.
Ø Nggak enak pada narasumber
Ø Terlalu ribet dan sibuk untuk menolak saat itu
Ø bingung cara menolaknya.
Ø diambil oleh teman liputan.


Ini adalah sebagian alasan yang sering terdengar. Saya sendiri mengharapkan jurnalis, terutama yang baru, mau disiplin dengan menolak segala macam bentuk pemberian atau suap atau hadiah. Sekali menerima maka akan memudahkan tindakan menerima selanjutnya. itu akan merusak perkembangan selanjutnya dari sang jurnalis muda. Sebenarnya kalau memang mau fair, jika sudah memilih profesi sebagai jurnalis seharusnya juga menerima resikonya. Jangan Cuma mau status dan gajinya saja…
Jadi bagaimana caranya menolak amplop, atau menyelesaikannya tanpa masalah kalau terlanjur diterima? Dibawah ini saya list beberapa ide yang mungkin bisa berguna.

Menghindar.
Pemberian amplop biasanya bisa diprediksi. Selalu ada orang-orang yang bertugas mendata dan membagikan amplop itu (biasanya humas atau coordinator dari jurnalis senior). Mengetahui siapa mereka tidak susah kok kalau mau mengamati. Cara terbaik adalah menghindar dari mereka. Usahakan menolak kalau diajak pergi ke tempat sepi (biasanya menjelang acara yang diliput berakhir). Kalau mereka nggak bisa menemukan kita, kita nggak perlu menolak amplop yang mereka siapkan.

Tolak dengan halus
Jelaskan baik-baik pada narasumber bahwa jurnalis tidak boleh menerima uang (kecuali dari kantornya ya). Jelaskan juga bahwa kita menolak uang juga demi kehormatan bersama. Kita akan lebih menghormati narasumber dan berharap dia juga lebih menghormati kita. Katakan saja bahwa jurnalis lebih senang kalau dibantu dalam pekerjaan berupa perijinan atau fasilitas, daripada diberi uang. Lakukan penolakan secara personal agar tidak mempermalukan sang narsum juga.

Tolak dengan keras
Cara ini baru diambil kalau narsum (atau ada teman-teman dari media lain) cenderung memaksa. Katakan pada mereka bahwa menawarkan uang berarti menghina profesi seorang jurnalis. Kalau mereka menawarkan uang, berarti mereka tidak menghargai kita. Kembalikan langsung di tempat, kalau dilakukan dengan sopan tapi cukup keras, mungkin malah menimbulkan respect dan bukan kemarahan.

Terima dan serahkan ke kantor.
Kadang-kadang kita kekurangan waktu atau terlalu repot untuk menolak. Sering juga Amplop diselipkan ke lembaran informasi yang kita terima dan lupa di cek. Kalau itu terjadi, keputusan yang paling aman adalah membawa amplop itu pulang dan menyerahkannya kepada pihak kantor untuk dikembalikan atau di selesaikan sesuai peraturan yang berarti.

Terima dan bawa pulang
Kalau memutuskan untuk membawa pulang uang itu, ingat bahwa keputusan itu diambil secara pribadi. Resikonya harus juga ditanggung sendiri. Jangan memamerkan, memberitahu atau membagi pada rekan kerja karena kalau diusut, bahkan menerima tanpa tahu bahwa itu adalah uang hasil amplop, tetap beresiko besar menerima hukuman standar; dipecat! Kalau berani bertindak, beranilah bertanggungjawab.

saran saya tetap saja; kalau berani atau mau mengambil amplop dari narsum, mendingan berhenti sekalian dari jalur jurnalisme. Memang tetap saja keputusan mengambil atau menolak tergantung pada pribadi masing-masing jurnalis. kalau saya menolak amplop, seorang rekan saya yang juga jurnalis, menyarankan untuk mengambil saja amplop itu, tapi dengan syarat jumlahnya minimal 5 miliar rupiah....

Wednesday, October 15, 2008

SCRIPT WRITING HARD NEWS 1


AYO BELAJAR NGEDIT NASKAH HARD NEWS


Beberapa teman sempat meminta saya mengajarkan cara menulis naskah. Mereka mengaku kesulitan saat berusaha menulis naskah untuk media broadcast, dan ingin tahu bagaimana ciri-ciri naskah yang baik itu. Walaupun keahlian menulis saya biasa saja, saya jadi tertarik untuk mencoba menjelaskan.

Daripada ngajarin cara menulis naskah (yang saya yakin kalian udah lebih jago), saya akan mengajak teman-teman belajar meng edit naskah[1]. Menurut saya yang pemalas, kalau reporter sudah bisa ngedit naskahnya sendiri pasti produser juga lebih nyaman. Produser bisa lebih konsentrasi pada content dan show daripada pusing mengurusi teknis menulis.

Makanya sekarang saya mau mengajak semua reporter untuk belajar mengedit sendiri naskahnya. Yuuuk….

Pertanyaan-pertanyaan yang umum diajukan penulis berita ‘baru’ adalah:
Bagaimana sih nulis berita yang lengkap?
Apa aja yang ditanyain?
Data apa aja sih yang penting?
Apa sih ciri-ciri naskah yang baik?
Bagaimana sih membuat naskah jadi lebih bagus?
Kita akan bahas satu persatu pertanyaan itu.
Ah… tapi karena saya malas, saya bahas secara keroyokan aja deh.

Pertanyaan satu dua dan tiga sebenarnya bisa dijelaskan jawabannya dengan satu kalimat klise. Kalimat yang diajarkan pada setiap kuliah jurnalistik dari tingkat dasar. Jawabannya adalah 5 W + 1 H. Berita akan lengkap kalau informasi 5 W + 1 H[2] dari kejadian atau peristiwa itu sudah ada dalam berita. Karena berbicara pada teman-teman yang sudah mumpuni dalam mencari berita saya rasa tidak perlu lagi menjelaskan secara mendalam tentang patokan dasar jurnalistik itu.

Pertanyaan keempat dan kelima bisa dirangkum jawabannya dengan 3 S : Simple (Sederhana), Short (Singkat), Sharp ( Tajam). Tiga hal itu adalah patokan sederhana untuk mengedit naskah, terutama naskah Hard News.

Jadi secara sederhana, untuk memperbaiki tulisan anda ada 2 patokan besar yang harus dimengerti, yaitu : 5 W+1 H dan 3 S


5 W + 1 H

Ini patokan dasar kuno yang udah diketahui semua orang yang mau, mendapat pendidikan, maupun sudah menjadi jurnalis. Kayaknya nggak perlu lagi deh dijelaskan ya… setuju?


3 S (Simple, Short, Sharp)

Ini patokan penyederhanaan versi saya. Hampir 6 tahun kuliah jurnalistik, komunikasi, dan ditambah pelatihan disana-sini (termasuk di BDP trans TV ini) saya dicekoki banyak sekali teori yang bagus dan signifikan tentang penulisan naskah. Kalau semua diajarkan kayaknya malah bikin pusing dan repot, jadi saya ringkas aja menjadi 3 unsur diatas.

Penjelasannya gimana?
Liat aja dibawah.
----------------------------------------------------------------------------------------
Simple aja dong:

Nulis berita (hard news) harus sederhana, secukupnya, tapi tetap tajam. Kenapa harus sederhana? Media broadcast adalah media selintas, yang berarti audience hanya mendengar atau menonton suatu informasi sekilas alias selintas saja. Supaya dapat dimengerti semaksimal mungkin maka naskah (yang akan dibaca sebagai narasi) harus dibuat sesederhana mungkin. Semakin mudah dimengerti berarti naskah semakin baik. Sebisa mungkin tulis naskah dengan alur cerita linear (untuk Hardnews), hindari flashback atau bolak balik. Usahakan menyampaikan informasi dengan kalimat yang sederhana, Jangan gunakan istilah teknis yang rumit, atau terlalu spesifik. Intinya, pakai bahasa yang gampang aja…

Contoh 1:
Jangan nulis:

KAPOLRI/ JENDRAL POLISI BAMBANG HENDARSO/ MENGANGKAT KAPOLDA JABAR/ IRJEN SUSNO DUADJI SEBAGAI KABARESKRIM POLRI//

Kabareskrim mungkin diketahui artinya oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia pers dan kepolisian (kriminal) tapi bagi orang awam mungkin membingungkan. Ingat bahwa kita menulis untuk penonton umum, bukan satu golongan khusus.


Tulislah :

KAPOLRI/ JENDRAL POLISI BAMBANG HENDARSO/ MENGANGKAT INSPEKTUR JENDRAL SUSNO DUADJI SEBAGAI KEPALA BADAN RESERSE KRIMINAL POLRI// SEBELUMNYA IRJEN SUSNO ADALAH KAPOLDA JAWA BARAT//

Contoh 2:
Jangan Menulis :

POHON NYAMPLUNG MEMANG POTENSIAL KARENA BISA MENGHASILKAN BIOFUEL// MELALUI BIODIESEL PROCESSING YANG CUKUP SEDERHANA/ BISA DIHASILKAN BAHAN BAKAR DENGAN JUMLAH YANG SIGNIFIKAN// NYAMPLUNG SAAT INI MENJADI TANAMAN KONSERVASI YANG BISA DITANAM DISELURUH INDONESIA//

Rumit ya? Coba jelaskan lebih sederhana. jangan sok rumit deh...

Tulislah :

POHON NYAMPLUNG PUNYA POTENSI DIOLAH MENJADI BAHAN BAKAR ALAMIAH// HANYA DENGAN PROSES SEDERHANA/ BISA DIHASILKAN BAHAN BAKAR YANG CUKUP BANYAK/ APALAGI NYAMPLUNG BISA DITANAM DI SELURUH DAERAH DI INDONESIA//

Pastikan aja bahwa pendengar mengerti apa yang anda maksud. Nggak usah sok gaya dengan istilah asing. Istilah-istilah ilmiah yang nggak umum Cuma gagah kalo ditulis di dalam skripsi.
------------------------------------------------------------------------------------
Short aja lah:

Di media broadcast, selain deadline, batasan yang harus dipertimbangkan oleh reporter / script writer adalah durasi. Semakin panjang durasi yang digunakan semakin mahal dan tidak efektif naskah itu. Semakin cepat audience mengerti berita yang sedang disampaikan semakin baik. Dengan ukuran seperti itu, tentunya berarti semakin pendek durasi sebuah naskah dalam menyampaikan suatu informasi, semakin baik naskah itu. Kalimat-kalimat aktif yang pendek dan to the point memudahkan dubber/narator membacakan naskah sesuai dengan jenis beritanya, yang pada akhirnya memudahkan pemirsa mengerti apa yang dibacakan.

Contoh 1 :
Jangan menulis :

MENURUT KETERANGAN SAKSI MATA/ KEJADIAN BERAWAL SAAT KORBAN BERUPAYA MENYEBERANG REL KERETA API/ TIBA-TIBA MELINTAS KERETA API EKONOMI BERNOMER ME 375 DARI ARAH JAKARTA MENUJU TANGERANG/ DAN LANGSUNG MENABRAK KORBAN// JASAD KORBAN DITEMUKAN SAKSI DALAM KONDISI MENGENASKAN// SEJUMLAH ANGGOTA TUBUH SUDAH TIDAK UTUH LAGI//

Reporter yang baik bisa mengumpulkan seluruh informasi penting yang ada, reporter yang lebih baik bisa menyortir sedikit informasi yang dibutuhkan dari tumpukan informasi penting yang ada. Jangan masukkan informasi tidak penting dalam narasi. Pakai hanya info yang terpenting, biarkan koran dan majalah menyampaikan detailnya.

Tulislah :

SAKSI MATA MENUTURKAN/ KORBAN SEDANG MENYEBERANGI REL/ KETIKA TIBA-TIBA MUNCUL KERETA API DARI ARAH JAKARTA MENABRAKNYA// JASAD KORBAN DITEMUKAN DALAM KONDISI TIDAK UTUH LAGI//

Lebih singkat. Kalau dibacakan akan lebih nyaman bagi sang narator/dubber.

Contoh 2:
Jangan menulis :

WALAU HARI RAYA IDUL FITRI TELAH BERLALU/ NAMUN HINGGA KINI SUASANA LEBARAN MASIH TERASA DI BEBERAPA TEMPAT DI JAWA TIMUR/ SEPERTI DI DESA SEKAR KURUNG/ KECAMATAN KEBO MAS/ GRESIK/ DIMANA RABU PAGI/ MASYARAKATNYA MENGGELAR TRADISI LEBARAN KETUPAT//

Kalau seperti ini jangan-jangan sang dubber bisa meninggal kehabisan nafas saat membacanya. Hindari kalimat bertingkat (dengan anak kalimat) seperti di atas, karena akan memperlambat pengertian audience. Potong-potong kalimat bertingkat itu manjadi beberapa kalimat singkat.

Tulislah :

IDUL FITRI TELAH BERLALU/ TAPI DI BEBERAPA TEMPAT SUASANANYA MASIH TERASA// MISALNYA DI DESA SEKAR KURUNG/ GRESIK// RABU PAGI/ WARGA DESA INI BARU MERAYAKAN TRADISI LEBARAN KETUPAT//

Coba baca dan rasakan. Lebih mudah’kan? Lebih sederhana juga bagi pendengarnya.

------------------------------------------------------------------------------------

Sharp dong:


Untuk memperoleh 2 hal itu (kemudahan dimengerti, dan durasi yang sesingkat-singkatnya) ketajaman penulisan akan sangat berguna. Tajam berarti to the point dan tidak berputar-putar. Pakai kata se efisien mungkin. Jangan mengulangi fakta atau data yang tak perlu (hindari redundancy), dan jangan memakai kata-kata bersayap atau memiliki arti ganda (ambiguitas). Hindari kata-kata klise yang tujuannya memperlembut arti saja.

Contoh 1:
Jangan menulis:

DASAR SEDANG SIAL/ 2 PENCURI ITU AKHIRNYA DITANGKAP BASAH DI TKP// PARA WARGA YANG MARAH MEMUTUSKAN MAIN HAKIM SENDIRI// SEGERA SAJA TERSANGKA BABAK BELUR DIHAJAR MASA// BERUNTUNG POLISI SEGERA DATANG DAN MENGAMANKAN MEREKA KE MARKAS//

Coba liat, ada tulisan dasar sial: seolah-olah kita ada di pihak si pencuri. Ada tulisan TKP, yang ini istilah khas polisi. Jangan keseringan dipakai, ah…Para warga? Para menunjukan beberapa sedangkan warga sudah berbentuk jamak. Para warga jadi berlebihan (redundancy). Pakai aja para penduduk atau warga saja.. ada pengulangan lain disana: kalimat ketiga dan keempat bisa disingkat karena secara garis besar artinya mirip.
Kalau tadi ada kata-kata dasar sial, kali ini ada ; beruntung! Sekali lagi kita memihak para tersangka itu. polisi datang dan mengamankan? menangkap lebih tajam dan langsung artinya. Perhatikan juga kata-kata terakhir; markas. Dalam kalimat terakhir menjadi tidak jelas (ambigu) apakah mereka dibawa ke markas polisi atau markas para pencuri?

Tulislah :

DUA ORANG TERSANGKA PENCURI ITU AKHIRNYA TERTANGKAP DI LOKASI KEJADIAN// WARGA YANG MARAH MEMUKULI KEDUA TERSANGKA SAMPAI BABAK BELUR// POLISI MENANGKAP PARA TERSANGKA UNTUK DIBAWA KE POLSEK JATINEGARA UNTUK PEMERIKSAAN SELANJUTNYA//

Selain patokan penulisan diatas, ada juga patokan penulisan yang tujuannya adalah mempermudah pembacaan narasi/ lead in untuk presenter. Dalam setiap penulisan istilah atau bahasa daerah atau sesuatu yang tidak dimengerti budaya lain, harus ditambahkan kelengkapan berupa: :
ejaan penulisan (penting buat CG atau bahasa asing)
pronunciation (penting disertakan terutama untuk bahasa daerah dan bahasa asing)

---------------------------------------------------------------------
Contoh Editing naskah:


Berikut adalah salah satu naskah yang diserahkan pada saya untuk di edit. Supaya lebih lejas mungkin bisa saya sertakan break down editing yang saya lakukan pada naskah ini. :
Langkah pertama saya baca dulu seluruhnya supaya tahu kira-kira tulisan ini tentang apa. Setelah itu baru pelan-pelan di perbaiki berdasar azas 3 S yang sudah saya ceritakan diatas.

Naskah asli :

SLUG :
KORBAN YANG DI ANIAY PAMANNYA MASIH DALAM KEADAAN TRAUMA BERAT

LOKASI : TAPANULI
HARI/TGL : SABTU/11/10/2008
REP/CAM : ABDI


(LEAD IN)

AROJIDUHU NDRUHU/ ANAK YANG DITEMUKAN DALAM KEADAAN KAKI DIRANTAI YANG DIPAKU KEDINDING RUMAH /AKIBAT DARI ULAH SANG PAMAN/YANG MENUDUH SI KORBAN MENCURI MAKANAN DARI RUMAH TETANGGA/HINGGA SAAT INI/MASIH DALAM KEADAAN TARAUMA/BILA MELIHAT ORANG YANG DATANG//


(PKG ROLL)

AROJIDUHU NDRUHU/KORBAN PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH PAMANNYA TUJUH BULAN YANG LALU/ HINGGA KINI MASIH BERADA DI POLSEK PINANG SORI// KORBAN YANG DIANIAYAH PAMANNYA/DALAM KEADAAN KAKI DIRANTAI/DIPUKULI SERTA TANGAN DIMARTIL/HINGGA HINGGA KASUSU INI TERKUAK//

SETELAH BERJALAN SELAMA TUJUH BULAN/ AROJIDUHU NDRUHU YANG TINGGAL BERSAMA KEPOLISIAN POLSEK PINANG SORI/DITEMUKAN DALAM KEADAAN TARAUMA//BILA MELIAHAT SIAPA SAJA YANG DATANG UNTUK MELAPOR KEPOLSEK TERSEBUT/ AROJIDUHU NDRUHU/BERLARI SEPERTI DIKEJAR BAYANGAN DAN BERSEMBUNYI DIBELAKANG KANTOR POLSEK//

BILA DIAJAK UNTUK BERKOMUNIKASI/ AROJIDUHU NDRUHU AKAN MENANGIS BERTERIAK/SEPERTI DIKEJAR-KEJAR BAYANGAN//

ANAK KORBAN PENGANIAYAAN INI/SUDAH PERNAH DIBAWA KEDINAS SOSIAL/NAMUN DINAS SOSIAL KEMBALI MENGANTARKAN AROJIDUHU NDRUHU KEPOLSEK/KARENA TIDAK MAMPU UNTUK MENDIDIK ANAK TERSEBUT//AKIBAT ANAK TERSEBUT MERASA KANTOR KAPOLSEK SUDAH DIANGGAP SEBAGAI RUMAH SENDIRI//

(SB) : AROJIDUHU NDRUHU/KORBAN PENGANIAYAAN//

DENGAN RELA HATI/TERPAKSA KEPOLISIAN POLSEK PINANG SORI/MERAWAT DAN MENDIDIK ANAK TERSEBUT/HINGGA BERJALAN SELAMA TUJUH BULAN/DENGAN BIAYA KEPERLUAN UNTUKNYA DIBERIKAN SECARA BERGILIRAN SETIAP ANGGOTA KEPOLISIAN YANG BERTUGAS//

(SB) : AKP A. FAUZI/POLSEK PINANG SORI//

SELAMA TUJUH BULAN DIRAWAT DAN DIDIK/KEPOLSIAN MENGALAMI KENDALA KARENA KEPOLSIAN TIDAK DAPAT MERUBAH RASA KETAKUTANNYA TERHADAP SIAPA SAJA YANG DATANG KEPOLSEK TERSEBUT//

KEPOLISIAN POLSEK PINANG SORI/MENCOBA MENYURATI DINAS SOSIAL PERLINDUNGAN ANAK/AGAR ANAK TERSEBUT/MENDAPATKAN DIDIKAN/HINGGA SAMPAI SAAT INI/SEPULUH SURAT YANG DILAYANGKAN BELUM ADA TANGGAPAN// KAPOLSEK PINANG SORI BERHARAP AGAR PIHAK DIDINAS SOSIAL AGAR MEMBAWA ANAK ITU KEMBALI KETEMPAT YANG SEMESTINYA UNTUK MENDAPATKAN DIDIKAN DAN PERAWATAN//

ABDI SOMAD/TRANSTV TAPANULI TENGAH/SUMATERA UTARA//

untuk urusan 5 w + 1 h, naskah ini ada beberapa hal yang tidak lengkap :
umurnya si anak itu berapa?
panggilannya siapa? nama panggilan mendekatkan korban dengan pemirsa, memperkuat karakterisasi sehingga bisa bikin story lebih akrab dengan pemirsa.
siapa nama keluarga / paman yang menyiksanya?
dia masih punya keluarga nggak?
soundbite dinas sosial yang mengembalikan anak itu?
bagaimana makannya, mandinya dan kehidupan sehari-hari? ceritakan biar personalisasinya lebih oke..

Naskah hasil editing :

(LEAD IN)

AKIBAT DITUDUH MENCURI MAKANAN/ SEORANG ANAK KAKINYA DIRANTAI KE DINDING OLEH PAMANNYA// AKIBAT PERLAKUAN ITU/ SANG ANAK MENGALAMI TRAUMA SETIAP MELIHAT ORANG LAIN//


(PKG ROLL)

NAMA ANAK INI AROJIDUHU NDRUHU// TUJUH BULAN LALU IA MENJADI KORBAN PENGANIAYAAN OLEH PAMANNYA// KARENA DITUDUH MENCURI/ AJI/ DIRANTAI KAKINYA KE TEMBOK OLE PAMANNYA// IA JUGA SEMPAT MENGALAMI BERBAGAI PENYIKSAAN/ BAHKAN SEMPAT DI MARTIL TANGANNYA//

SEJAK KASUS ITU TERUNGKAP/ AJI TINGGAL DI POLSEK PINANG SORI/ TAPANULI TENGAH// IA MENGALAMI TRAUMA BERAT DAN SELALU BERSEMBUNYI JIKA MELIHAT ORANG DATANG// (disini cerita tentang keluarganya, ada nggak yang mau mengambil dia? ada nggak yang brtanggung jawab?)

AJI SEBENARNYA PERNAH DIBAWA KE DINAS SOSIAL UNTUK MENJALANI PERAWATAN TRAUMA/ NAMUN KEMUDIAN DIKEMBALIKAN LAGI// ( kalau dinas sosial nggak mamupu harusnya ada soundbitenya…)

(SB) AROJIDUHU NDRUHU/ KORBAN PENGANIAYAAN//
(kasih garis besar isi soundbitenya, biar editingnya nyaman)

ANAK INI TELAH TINGGAL DI KANTOR POLSEK INI SELAMA TUJUH BULAN// TAK HERAN/ KINI POLSEK PINANG SORI SUDAH DIANGGAP AJI SEBAGAI RUMAHNYA SENDIRI//

(SB) : AKP A. FAUZI/POLSEK PINANG SORI//
(kasih garis besar isi soundbitenya, biar editingnya nyaman)

KAPOLSEK PINANG SORI SEBENARNYA TELAH MENCOBA MENYURATI DINAS SOSIAL PERLINDUNGAN ANAK AGAR AJI MENDAPAT PENANGANAN YANG LEBIH BAIK// SUDAH SEPULUH SURAT YANG DILAYANGKAN/ NAMUN BELUM JUGA ADA TANGGAPAN//


ABDI /TAPANULI /SUMATERA UTARA//

oke deh... segitu aja contohnya. coba deh dibedain ya...



catatan kaki:

[1] Waktu SD saya sangat lemah di mata pelajaran IPA. Karena kesal melihat saya yang malas latihan mengerjakan soal, orang tua saya menyuruh saya belajar membuat soal. Menurut mereka, latihan membuat soal lebih berguna daripada sekedar latihan mengerjakan soal. Saat saya berusaha membuat soal, saya otomatis juga harus mengerti caramengerjakan dan mengetahui jawabannya juga. Sampai sekarang saya selalu belajar dengan metode itu. Makanya menurut saya, kalau orang udah bisa ngedit naskah, pasti naskahnya akan jadi bagus juga.

[2] . 5 W + 1 H adalah singkatan dari unsur-unsur dasar dari informasi yang dibutuhkan untuk membuat berita yang lengkap. Who (siapa yang terlibat) , What (apa yang terjadi), Where (dimana lokasinya), When (kapan terjadinya), Why (alasan terjadi) dan tentunya How (kronologis atau modus kejadian).

Wednesday, September 24, 2008

LIPUTAN YUK

Ada perubahan dalam sistem liputan saat ini. Nyaris semua reporter dan kamera person berfungsi seperti mesin, datang dan pulang pada jam yang sudah ditentukan. Datang pagi, liat proyeksi, jalan liputan, pulang, nulis naskah, rapat lalu pulang. Jarang sekali ada jurnalis muda yang mengusulkan liputan jadi dan membuat sendiri rancangan liputannya. Mereka lebih mirip tentara yang siap menerima perintah daripada seniman yang bangga pada karya-karyanya.

Dalam tulisan berikut, saya ingin menyampaikan beberapa check list yang mungkin berguna untuk reporter atau VJ yang mencoba menyempurnakan liputannya.

1. jangan berangkat dengan kepala kosong. Riset lah sebelum berangkat. usahakan agar sang reporter jangan sekedar menjadi mike stand (cuma megangin mike doang). Riset latar belakang masalah dan narasumber yang bisa dikontak. kalau serius, you'll be amazed what you could found in internet. Supaya tidak terlalu banyak meriset, sebaiknya sang reporter harus slalu update. Baca koran, majalah, internet, dengera radio (jangan lagunya aja). Be a news freek!!

2. walau harus mengisi kepala, tetap saja better empty head than empty stomach hehehe.... gak makan nanti lemes, informasi lupa semua dah. makanya makan dulu sebelum liputan. Makan lah saat bisa makan, sebab pekerjaan ini (jurnalistik) selalu bermusuhan dengan waktu. Segera makan begitu ada waktu luang dan bisa, makan sebaik-baiknya, sebab jangan-jangan itu adalah kesempatan terakhir untuk makan di hari itu...

3. Scedulling is everything. Jurnalis yang baik adalah jurnalis yang efektif dan efisien. rencanakan liputan sedetail mungkin, pakai target waktu kalau perlu. Rencanakan mulai dari pengambilan gambar, lama membuat PTC, wawancara, waktu mencari narasumber, waktu perjalanan (jarak antar TKP), dan ekstra waktu sebelum deadline. Usahakan liputan dilaksanakan sesuai dengan schedulle tersebut.

4. Bawa catatan. Banyak reporter yang mengandalkan rekaman pada kamera untuk mencari soundbite kemudian, ini bukan hanya memperlambat, tapi juga menyusahkan sang reporter membuat naskah di luar kantor (misalnya: diminta mendiktekan naskah, membuat naskah di mobil dst). Biasakan mencatat data dan soundbite yang diinginkan, termasuk time codenya di kaset. itu akan memudahkan pencarian dan pemilihan soundbite saat editing.

5. Jaga kontak dengan kantor. Laporkan kalau kamu berniat bergeser atau menemukan berita yang menurut kamu menarik, supaya tidak ada tim ganda di satu lokasi dan kamu tidak dianggap menyeleweng dari tugas. Misalnya lagi jaga DPR terus sepi mau geser ke balaikota, jangan lupa telp korlip, takutnya di balaikota udah ada orang atau kalau kemudian ada apa-apa terjadi di DPR, kamu tidak disalahkan karena gesernya sudah seijin korlip.

6. Ngobrol dong.. Rencanakan liputanmu bersama sang kamera person. Ngobrol ! tentukan jenis liputan sesegera mungkin, kalau ada ide segera informasikan. Intinya adalah komunikasi antara reporter dan camera person harus terus terjadi.


udah ah... ayo liputan.

Monday, September 8, 2008

TIPS PTC BUAT SOLO JOURNALIST ATAU VJ.

Show your real skill


Pasti sudah berkali-kali kalian diperintahkan untuk PTC (alias : Piece To Camera) oleh koordinator liputan. Liputan memang kering kalau tanpa PTC dari sang reporter, apalagi kalau dalam kasus-kasus tertentu dimana akan menjadi nilai plus jika si reporter nampak di layar. Plus buat beritanya, dan plus buat reporternya tentu saja.

PTC penting saat kita butuh menjelaskan sebuah kejadian tapi tak memiliki gambar yang bercerita, atau fakta-fakta yang ingin anda jelaskan secara lebih personal pada audience anda.

Kalau sudah menghayati nilai dari PTC, setiap Tim Liputan harusnya selalu melengkapi liputan dengan PTC. Masalah dipakai atau tidak, itu adalah pertimbangan belakangan. Biar bagaimanapun, liputan yangt lengkap butuh satu atau lebih PTC dari sang reporter. Tapi bagaimana kalau sedang apes dan kebagian VJ? Mmh.. apalagi kalau kemudian dapat kasus yang perlu PTC. Bagaimana dong?

Berikut adalah tips untuk melakukan. PTC bagi seorang Video Journalist dari Christina Fox. Menurut saya pengaturan ini menarik sekaligus mengingatkan kita pada pentingnya membuat sistem dan SOP. yap.. enough talking, ini tips SOP nya.

  1. Letakan kamera di Tripod (pastikan tripod stabil dan kokoh) kemudian atur lensa agar ada di eye level anda.
  2. Lakukan white balance
  3. Zoom out sejauh mungkin (buat se- wide mungkin), ini mudah dilakukan dengan kamera yang lensanya semi professional ( misalnya untuk kamera VX2000, PD150, PD170 dan XL1s). Kalau menggunakan kamera dan lensa yang lebih professional, sebaiknya lakukan eksperimen dengan angle pengambilan. Posisi lensa wide akan memastikan depth of field lebih luas, sehingga focus gambar tidak akan terlalu tipis, sehingga penonton dapat juga menyaksikan background yang dipilih.
  4. Pilih background yang akan muncul di belakang anda saat PTC. Atur framing nya.
  5. Tilt down sedikit kamera anda dari garis horizontal – ini untuk memperkecil headroom (ruang kosong diatas kepala ) dan menghindarkan anda dari kesan pendek, jika headroom anda terlalu lebaar.
  6. pindahkan pengaturan exposure dan level suara ke Automatic.
  7. Start recording. Pada beberapa kamera yang punya LCD yang bisa diputar 180 derajat, bisa digunakan sebagai Patokan. Putar LCD sehingga kita bisa melihat framing kita.
  8. Mundur dua langkah dari kamera (cek framing di LCD kalau ada) dan letakkan penanda di kaki anda. Pura-pura bicara (PTC) dari posisi itu agar ter rekam.
  9. Cek ulang hasil rekaman. Patikan framing sudah benar, kalau belum sesuaikan.
    Atur fokus pada penanda dan rapikan shooting frame anda. Jadi saat anda berdiri di posisi penanda itu hasil rekamannya akan fokus pada wajah anda.
  10. kunci lagi tripod dengan baik. (mudah-mudahan kunci tripod nya masih baik) kalau tripod nggak bisa dikunci, ganti aja pakai tangga atau meja hehehe.
  11. Start recording - lagi
  12. lakukan piece to camera anda yang sebenarnya.
  13. Setelah selesai, cek lagi… biarpun PTC anda sempurna, siapa tahu ada serombongan orang melambai-lambai di belakang anda saat melakukan PTC.

Memang terkesan panjang pengaturannya. Tapi kalau sudah terbiasa, sebenarnya simple aja kok. Saya juga pernah mencoba ini dan lumayan sukses. Jadi selamat mencoba ya…..
by the way, tahukah hal yang paling menyenangkan saat melakukan PTC sendiri? Tidak perlu bikin sign of panjang panjang!.

Gak usah bilang… Chris rey dan Manfrotto melaporkan,
atau nulis; Budi Afriyan/Vinten/ jakarta….
Cukup nama anda yang muncul. Keren kan?

TIPS PTC UNTUK CAMERA PERSON

Be creative, Be original.


Biarpun bukan sang Camera person yang PTC (kalau mau sih nggak apa...tapi harus tetap nyadar diri ya.. hahaha) tapi seperti semua hal di dunia televisi, PTC yang baik cuma bisa terlaksana apabila ada kerjasama yang baik juga antara campers dan reporter. kalau nggak bisa kerja sama, mati aja deh.. jangan kerja di TV.
Tugas sang camera person adalah memastikan gambar yang dihasilkannya berkualitas sebaik-baiknya dan dapat digunakan dalam berita yang dibuat. Berarti Campers juga bertanggungjawab menegur dan mengingatkan reporter bila ada tampilannya yang tidak pas atau aneh. Kalau reporter tampak aneh di layar, campers juga bertanggungjawab!

Jadi Campers jangan males, cari angle-angle yang keren untuk PTC. Ayo keliling dan bikin sekuen untuk melengkapi (insert) PTC kalau diperlukan. Biakin PTC yang gambarnya belum pernah dibuat, original dan akan selalu diingat orang yang menonton. dibawah ini ada beberapa Tips dan SOP buat campers soal PTC ini, mudah-mudahan berguna:


Camera Work:
Ide gaya PTC bebas, tergantung konteks cerita, tapi ada beberapa Camera work yang umum digunakan. Beberapa camera work yang sudah pernah saya gunakan dan terbukti bisa mengubah

  1. Camera steady, reporter steady. Reporter sudah ada di frame dan langsung PTC.
    Ini framing standar yang udah dipakai sejak jaman batu. kalau masih kayak gini framingnya, jangan ngaku udah jago deh.
  2. Camera Steady dan Reporter inframe (masuk ke dalam frame dari luar frame)
  3. Camera Paning dari pemandangan sekitar ke reporter yang steady. Biasanya digunakan bersamaan dengan Audio advance (suara si reporter masuk saat kamera masih panning dan belum kelihatan sosok si reporter itu).
  4. Camera Panning bergerak mengikuti reporter yang moving. Perhatikan bahwa gerakan Panning harus halus dan cukup lambat untuk diikuti mata. Panjang Panning jangan lebih dari 5 detik. pastikan ada "sesuatu" yg berharga dan layak masuk dalam frame dengan cara menggerakan camera. Kalau nggak ada, pakai steady aja.
  5. Camera zoom in. zoom in dan out jangan lebih dari 5 detik Biasanya dari gambar wide pemandangan atau lingkungan ke close up si Presenter. Gunanya menunjukkan presenter ada dimana saat ia melakukan PTC.
  6. Camera zoom out. Biasanya untuk PTC closing, untuk menunjukkan si presenter ada dimana.
    Saya sendiri lebih menyukai kamera yang steady, karena akan lebih nyaman bagi Audience jika gambarnya tidak bergerak. Zoom in/out dan Panning hanya dilakukan jika ada maksudnya dan tidak ada pilihan lain.

Angle Camera:
Standarnya adalah sejajar mata (eye level), kecuali memang ada maksudnya untuk merubah standar itu. Sebisa mungkin Tripod harus dipakai saat take PTC, kecuali pada situasi tertentu yang menyulitkan pemasangan/penggunaan tripod.

Framing:
Standarnya Reportase: Presenter tampak sebatas dua kancing teratas. Untuk feature atau soft news bisa lebih bervariasi.
Untuk reportase, tempatkan presenter di tengah layar.
Jika terpaksa Medium Shot atau Long Shot diharapkan tidak ada dua orang sejajar dalam satu framing PTC.


SOP CHECK LIST PTC untuk sang campers:
Warisan dari om Hidayat gautama nih….

1) Lokasi: pilih yg relatif noise nya rendah, lalu komparasikan dengan kekuatan vocal reporter kalian dilingkungan itu.
2) Background: sesuaikan dg konteks cerita.
3) Sumber cahaya: usahakan kualitas dan intensitas cahaya PTC tidak berbeda jauh dengan footage yg sebelumnya sudah kalian ambil (ini untuk menghindari jump-cut, dan retina mata kaget).
4) Cek teliti pakai earphones/ headphones kualitas vocal reporter (keras, sedang, rendah), cek teliti artikulasinya ( its a bloody important thing !).
5) Bandingkan/ komparasikan nattsound dan kualitas vocal reporter itu. Lalu pilih, mode manual atau automatic yg perlu kalian lakukan saat setup di audio selector input. Suara nattsound dan vocal reporter tidak boleh sejajar dilevel audio meter atau saling berkejaran. Vocal reporter harus 2-3 level diatas nattsound.
6) Wardobe, Rambut, Bahu (jika diambil sebatas dada doang): betulkan posisi yg tidak rapi, koreksi yg tidak simetris, awasi gerak gerik (gesture) reporter saat latihan membaca berita. Larang mereka melakukan gerakan yg engga natural saat PTC. Jangan kebanyakan senyum, secukupnya aja. pastikan nggak ada norma yang dilanggar dalam berpakaian atau dalam gerakan sang reporter..
7) Copot ID card kantor yg bergantung didada.
8) Batasi PTC hanya hingga 4 kali take, karena kebanyakan take menunjukan kalian hanya kelompok amatir dan bikin lama doang saat editing. Setiap take dibedakan speed readingnya, ada yg lambat banget dan ada yg agak cepat. Tiap berganti take, maka pergantian clip ditandai dg meletakan tangan kalian didepan lensa (on-record) spy mudah saat dicari di editing.
9) Perhatikan cara reporter memegang mic, jaga jaraknya 20 cm dari mulut, boleh lebih dekat jika memang noisenya tinggi.
10) Lakukan latihan dan perhatikan seksama gesturenya, bersikap kritis jika ada kalimat yg engga nyambung. Dengarkan dg teliti artikulasinya, betulkan jika ada salah.
11) Lihat baik-baik apa yg kalian lihat dalam View Finder. Kesalahan sering terjadi karena saat take, mata justru dilepas dari VF.


Good luck dan tetap tinggikan standar mu.


didit